Tinggal Serumah dengan Mertua, Hidupku Bagai Burung Dalam Sangkar

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri.

Akhir-akhir ini, sudah hampir mau setahun aku merasakan ada yang berbeda dalam diriku.

Entah kenapa aku semakin tidak betah dan jenuh tinggal 1 atap dengan mertuaku.

Awalnya aku kira bakalan betah untuk sementara waktu tinggal bareng dengan mertua, ternyata tidak!

Aku cerita keluh kesah ku pada suami, suami hanya menanggapi dengan sabar, tunggu waktu, sedang berusaha, aku hargai keputusan dan keadaan suami.

Tapi berpura-pura dengan terus-terusan bertahan tiap hari dengan aktifitas dan keadaan seperti itu membuatku tambah jenuh.

Lelah bukan kalau kita berpura-pura? Ya tentu saja ini membuatku lelah dalam menjalani hidup tiap harinya.

Bukan berarti mertua ku  tidak baik, mereka baik, tapi aku hanya tidak suka dengan keikutcampuran mereka dalam rumah tanggaku, dalam mengurus anak. Mulai dari hal-hal kecil tentang tidak boleh keluar sebelum 40 hari, tidak boleh beli dot untuk anak, tidak boleh lama-lama nginep itupun di rumah orang tua sendiri. Dll. Hal itu kadang membuatku sedikit jengkel, kenapa mereka harus ikut campur ?? Seorang istri punya hak dan sebuah privasi!!

Dalam keseharianku hanya bisa berpura-pura betah, tegar ..

Tapi aku hanya diam, dan setelah itu menangis dalam sujudku. Aku yang tidak tahu lagi harus bagaimana bersikap dan membawa hati. Seringkali aku berdoa agar diberikan rumah sendiri. Bukankah itu lebih baik? Adakalanya aku melampiaskan segalanya dengan main ke rumah saudara, atau teman , menghirup udara lain, menghirup suasana lain..

Tapi ketika sudah kembali ke rumah? Sungguh pengap menyerbu dada. Aku memilih segera masuk ke kamar dan berdiam diri dalam dzikir kepada-Nya.

Tapi yang namanya hati, ketika terluka sungguh sakitnya minta ampun. Dan aku selalu yakin bahwa hanya Allah yang bisa menyembuhkan lukaku. Dia memiliki banyak cara dan jalan yang kita tidak pernah sangka-sangka.

Dalam kesempitan itu, kesepian, setiap langkahku, aku tak lupa beristghfar dan bersholawat. Karena aku sungguh sudah tidak paham lagi dengan apa yang aku hadapi dan aku rasakan. Seperti hitam tak berarah, gelap tak bercahaya. Sehari-hari aku seperti boneka tak bernyawa, seperti burung dalam sangkarnya,  bermain dalam rumah yang mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s